..sedikit berbagi ilmu..

ketika ilmu begitu bermanfaat

Pertanyaan Seputar Piping

Pertanyaan Seputar Piping

(from:Milist Migas Indonesia)

Pertanyaan : Tri Lestyo

BlankDear rekan-rekan migas,

Mohon pencerahan mengenai piping, dalam drawing piping yang dinamakan dg isometric drawing , informasi apakah yang seharusnya tercantum didalamnya ? karena, pernah kami menerima dari drawing dari client tapi tidak tercantum dimana adanya site welding , hanya shop welding dan instrument2xnya yang tercantum. Apa ini bisa dikatakan isometric drawing ?

Kemudian dari isometric drawing, akan dibagi menjadi beberapa spool drawing, atas dasar apa membaginya ?

Mohon maap kalau pertanyaannya terlalu mendasar.

Tanggapan 1 : Ferry Triyana

Isometric drawing adalah salah satu cara untuk menggambarkan bentuk 3 dimensi dalam 2 dimensi saja, di mana sudut2 antar sumbu proyeksi (x,y,z) adalah sama, 120 deg. Dalam hal piping isometric drawing, yang digambarkan mengikuti kaidah2 isometric tadi “biasanya” hanya sumbu pipanya saja, dengan disertai informasi mengenai line no, spool no., item no. yang berhubungan dengan material list (MTO), weld no., dimensi (panjang) pipe spool, elevasi, posisi dan identifikasi pipe support dan beberapa hal yang mungkin ingin ditambahkan oleh designer, seperti flow direction, field weld dan golden weld. Penentuan field weld (site welding) berdasarkan pertimbangan2 mendasar yang harus dilakukan oleh designer, seperti koneksi dengan equipment, tie-in dgn existing line, dsb. Dalam satu gambar piping isometric tidak harus selalu ada field weld. Biasanya drafter yg menentukan jumlah spool dalam satu gambar isometric, dengan pertimbangan kejelasan penggambaran pipe routing dan identifikasinya.

Tanggapan 2 : Dirman Artib

Pak Ferry,

Terima kasih atas pencerahannya. Tetapi alangkah lebih bagus jika anda menyertai keterangan dengan referensi engineering codes, norms atau standards, karena kalau hanya bersandard kepada “biasanya” dan yg biasa and lihat dan alami, bisa saja itu kurang tepat.

Demikian, mohon ma’af.

Tanggapan 3 : mokhamada@technip.com

Ya, kalau mas Dirman atau siapa saja yang tahu referensi engineering code, tolong ditambahkan biar lebih simple.

Ngomong2 masalah Piping, sekarang kan ada beberapa perusahaan di Indonesia yang pakai PDS atau PDMS. Nah dari modelling itu bisa didapatkan banyak macam out-put, a.l. Bill of Material, isometric, Pipe support, dan juga akan kelihatan kalau ada inteference dg equipment lain atau piping lainnya, dll. Dan siapa tahu u/ yang akan datang u/ hal2 lain spt piping stress-nya juga bisa di deteksi. Jadi begitu kita punya Plan Arrangement atau equipment lay-out dan kita masukkan program macam kayak PDMS atau apa namanya,bias langsung keluar Draft Requisition for Enquiry u/ piping material, valve, gasket, bolt & nuts, pipe support, dll. Nah mungkin suatu hal yang manarik buat adik2 mahasiswa (dan siapa tahu KMI atau lembaga lain bisa ikut membantu) yang mau bikin tugas akhir tertarik u/ membuat suatu software u/ Plan modelling c/w stress analysisnya, dll yang bisa diaplikasikan u/ suatu project (minimal di Indon), sehingga didapatkan out-put yang udah matang, jadi tidak perlu caesar II atau autopipe lainnya. Saya yakin bisa kalau ada yang mau memulainya, dan akan berkembang u/ pembuatan software lainnya,Jadi begitu kita punya Equipment layout atau Plan Arrangement atau malah begitu kita dapat data dari sumur, bisa langsung dimasukkan ke sofware tsb u/ SIZING, NGITUNG SLAG, bikin Equipment Layout, dll dan keluar dalam bentuk draft Requisition for Enquiry-nya u/ semua equipment, piping, dll. Biar Engineer2 spt mechanical, piping, electrical, instrument, proses, dll bisa berkurang bebannya.

Wong2 yang kecil2 aja sering jadi juara olimpiade fisika koq. masak sih kita nggak bisa? Dan biar nggak diomongin terus sebagai bangsa yg ketinggalan terus.

Tanggapan 4 : Ferry Triyana

Terima kasih pak Dirman atas tanggapannya.

Terus terang, untuk masalah piping isometric drawing, selama ini saya hanya mengacu ke engineering practice, berdasarkan QA procedures manual tempat saya bekerja, dan BS EN ISO 6412-2 Technical Drawing – Simplified representation of pipelines – Isometric projection.

Ada dua “biasanya” yang saya sebutkan di penjelasan saya, yang pertama mengenai penggambaran isometric drawing menggunakan sumbu pipanya saja. Saat ini bisa dikatakan semua perusahaan EPC besar telah menggunakan perangkat lunak yg bisa menggambar 3D dalam merancang produknya. Ada kalanya diperlukan penggambaran pipe routing secara 3D, kemudian memproyeksikannya dalam pandangan isometric untuk memeriksa apakah ada “clash” dalam sistem perpipaannya. Saya pikir ini bisa disebut piping isometric drawing juga, walaupun gambar ini tidak perlu turun sampai ke pipe fitter.

Yang kedua adalah penentuan jumlah spool dalam satu gambar isometric, saya katakan “biasanya” ditentukan oleh drafter. Ini pun saya tidak memiliki dasar yang kuat dalam penjelasan saya. Tanpa bermaksud mengecilkan peran drafter (karena saya sendiri pernah menjadi seorang drafter), penentuan jumlah spool ini adalah hal yang cukup sederhana sehingga tidak dibutuhkan seorang designer berpengalaman untuk mengerjakannya.

Itu saja dari saya.

Mohon koreksinya.

Tanggapan 5 : Dirman Artib

Pak Triyana,

Kebetulan saya pernah berpengalaman dalam memfabrikasi spool pipes.

Gambar spool pipe yg terkadang dari isometric yg diberi tanda fieldweld (titik) atau shopweld (titik dalam lingakarand) digunakan sebagai shop drawing, yg bertujuan sebagai informasi bagi pipe fitter di pipeshop . Yg memutuskan apakah weld dilakukan di shop atau di field bisa saja dilakukan seorang site piping engineer, karena menyangkut constructability sebuah desain. Bayangkan jika lokasi field weld tsb. pada lokasi di mana welder tidak mampu mengelas, misalnya tidak ada ruang atau akses atau berbahaya bagi keselamatan dirinya atau asset of plant. Field dan shop weld juga mempertimbangkan biaya persiapan welding yg mungkin mahal karena harus mempersiapkan alat bantu kases, contoh : scaffolding. Teorinya adalah shopweld harus sebanyak mungkin dilakukan karena murah, mudah dan lebih produktif, tentunya dibanding fieldweld.

Tanggapan 6 : Ferry Triyana

Pak Dirman,

saya setuju sekali dengan Bapak, field weld jelas lebih rumit dalam pengerjaannya dengan mempertimbangkan aspek safety, accessibility, cost (termasuk juga NDT-nya) dan lebih besar kemungkinannya terjadi weld defect dibanding shop weld. Saya hanya mencoba menjelaskan pertanyaan mas Tri, yang bertanya:

“Kemudian dari isometric drawing, akan dibagi menjadi beberapa spool drawing, atas dasar apa membaginya?”

Beliau menyebut “spool drawing”, jadi saya hanya mencoba menerangkan penggambaran piping isometric drawing dalam satu lembar kertas (misal ukuran standar A3), akan ada berapa spool drawing dalam ukuran kertas tersebut? Nah, ini yg saya maksud cukup ditentukan oleh drafter, misalnya hanya satu atau dua spool saja dalam satu lembar. Ini menyangkut kejelasan penggambaran dan pembacaannya.

Apabila yang dimaksud adalah bagaimana memotong suatu piping system menjadi spool2 terpisah, termasuk menentukan letak field weld atau shop weld, hal ini jelas harus diserahkan pada designer yang sudah berpengalaman.

Tanggapan 7 : Suharyo Haryono

Mas Tri,

Saya mau coba bantu sedikit, semoga berguna. Sepanjang pengetahuan saya, isometric dibuat untuk memudahkan pipe fitter dalam memfabrikasi spool dengan menunjukkan dimensi-dimensi kunci yang dibutuhkan, orientasi dan material2 yang dibutuhkan sehingga spool tersebut bias difabrikasi sesuai dengan keinginan pihak client.

Line pipa dari end to end dengan beberapa pertimbangan (seperti: kemudahan dalam fit-up, transportasi dan instalasi di site (jika ada concern space)) dan kemudahan untuk maintenance (valve, pipa itu sendiri dan equipment) dibuat menjadi beberapa bagian menjadi spool2. Dengan pertimbangan tertentu ujung2 suatu spool bisa berupa flange-flange, flange-weld joint atau weld joint – weld joint.

Dalam isometric biasanya terdapat informasi-informasi:

1. Jarak fitting center-center atau jarak-jarak yg dianggap perlu untuk memudahkan fabrikasi, jenis fitting yang dipakai dan lokasinya

2. coordinate (dari leg terdekat atau patokan lain yang menjadi referensi tergantung lokasi) (biasanya memerlukan piping key plan untuk kemudahan perletakan)

3. Orientasi spool (elbow 90, elbow 45, dll) tergantung kebutuhan

4. Field weld joint location

5. Venting point dan drain point

6. Line no and spool no

7. Instrument-instrument yg akan dipasang

8. pipe support number (dan sketch lokasi nya)

9. Valves (jenis, ukuran, rating dan jenisnya (DBB?)

10. elevasi spool

11. Bill of material (BOM)

12. Flow direction

13. Data-data line( missal: code, spec, design pressure, design

temp, paint spec, insulation, NDT, Hydrotest pressure), PWHT)

14. Untuk shop drawing, biasanya disertakan ukuran-ukuran pipe

nipple yg diperlukan.

December 27, 2008 - Posted by | Piping/Pipeline | , ,

3 Comments »

  1. wadoh…ngambil dari milis migas…kikikikikiki…
    keep trying bro..!!!

    Comment by soe83 | March 4, 2009 | Reply

    • Iya emang, kan ada tulisannya di dsana kalo gw ambil dr milis migas?
      hehe..
      Thx yah udah mampir..

      Comment by vladvamphire | March 4, 2009 | Reply

  2. bagus artikelnya.thanks

    Comment by bman | November 23, 2009 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: