Tahapan Pekerjaan Offshore Pipelaying

….

Video di atas menjelaskan secara singkat bagaimana proses pekerjaan offshore pipelaying. Mari coba kita simak bersama dan kita bahas hehe…

  • Time : 00 00
    • Proses transfer pipa dari transportation barge ke pipelay barge. Coba perhatikan dengan seksama, pipa ini merupakan jenis anode joint, ada anode ditengah-tengah pipa.
  • Time : 00 35
    • Ini merupakan lineup station (beadstall) dimana proses persiapan pipeline dimulai. Aktivitas yang ada disini antara lain bevelling, buffing, pre-heat, dan lain-lain. Dalam video ini akan terlihat mesin kotak berwarna merah (Tine 00.43), itu biasa disebut sebagai Pipe Face Machine.Terlihat juga riggers melakukan pengecatan nomer field joint. Continue reading “Tahapan Pekerjaan Offshore Pipelaying”

Above Water Tie-In

Salah satu analisa yang bisa dilakukan oleh OFFPIPE adalah davit lifting analysis. Davit lifting adalah proses pengangkatan ujung pipeline oleh davit (cable) yang ditarik dari atas barge. Biasa digunakan 3-5 davit untuk proses tersebut sampai ujung pipeline berada di atas permukaan laut, dimana davit pertama letaknya hampir di ujung pipeline lalu selanjutnya berjarak beberapa meter dari davit yang satu ke davit yang lainnya. Ketika proses pengangkatan ini maka pipeline akan melengkung membentuk kurva dan tentu saja jika tidak diperhitungkan dengan sebaik-baiknya bukan tidak mungkin lengkungan tersebut akan menghasilkan stress yang melebihi batas dan pipeline bisa mengalami kegagalan (patah). OFFPIPE mampu melakukan analisa proses davit lifting ini dan memberikan output berupa stress yang terjadi pada semua daerah pipeline, terutama pada daerah lengkungan yang terbentuk ketika pipeline diangkat ke atas.

1

Gambar 1 Ilustrasi Proses Davit Lifting (OFFPIPE Manual)

Proses davit lifting biasanya dilakukan sebagai proses penyambungan pipeline, dimana sebenarnya bisa saja dilakukan penyambungan (pengelasan) di bawah laut tapi dengan biaya yang jelas lebih mahal. Davit lifting memberikan harga yang relative lebih murah dari pada proses pengelasan bawah laut. Proses penyambungan dengan mengangkat pipeline ke atas permukaan laut bisa dikenal dengan Above Water Tie In. Penyambungan ini bisa antara pipeline dengan pipeline atau juga antara pipeline dengan riser. Tahapannya cukup sederhana, pipeline diangkat ke atas permukaan laut, lalu disambung dan diturunkan lagi ke dalam laut.

Perhatikan foto di bawah ini (Gambar 2). Dalam foto tersebut Continue reading “Above Water Tie-In”

Pipeline Installation Engineering

OFFPIPE and Pipeline Installation


Hufff… setelah lama gak nulis.. saatnya menulis kembali.. demi bangsa dan Negara hehehe… Merdeka! Dan sebelumnya saya minta maaf jika tulisan ini kurang memuaskan (mohon koreksi) karena saya hanya mencoba menjelaskan apa yang saya ketahui (maklum masih hijau dan belum banyak pengalaman hehe…)

Seperti telah diceritakan sebelumnya, saat ini saya bekerja sebagai Pipeline Engineer di Nigeria. Untuk posisi tersebut, saya bertanggung jawab pada salah satu project yang sedang kita kerjakan, MIPs (MPN Integrity Projects). MIPs adalah project intalasi pipeline yang terdiri dari 3 macam diameter pipe (16’’, 20’’ dan 24’’) di 6 lokasi (3 lokasi di offshore dan 3 near shores). Ruang lingkup kerjaannya lebih pada analisa pipeline saat instalasi dengan menggunakan software OFFPIPE tentunya, dan beberapa perhitungan manual yang tidak bisa dicover oleh OFFPIPE. Intinya, menghitung pipe stress hehe sampe stress.. Oia saya gundul lho sekarang (bukan saking stress lho hehe..).

Pipeline installation adalah proses pemasangan pipeline di laut. Hal yang harus diperhatikan adalah besarnya stress yang terjadi pada pipe pada saat proses tersebut. Mulai dari saat pipa masih diatas barge, di stinger, dan saat pipa menyentuh seabed. Ada 2 kategori area yang harus dicek, yaitu Overbend dan sagbend. Overbend area dimulai dari pipe masih di atas barge sampe stinger (kecuali roller terakhir pada stinger). Sedangkan sagbend mulai dari roller terakhir pada stinger sampai seabed. Accetance criteria untuk area ini pun berbeda. Menurut DnV OS F101 ‘Submarine Pipeline System’ Section 13, part H300 ‘Simplified Laying Criteria’, disebutkan bahwa utk overbend area menggunakan strain based criteria, sedangkan sagbend menggunakan stress based criteria. Dimana untuk calculated strain maksimal uyang diijinkan adalah 0,205% (Material X52, Static Condition) dan stress maksimal yang diijinkan adalah 87% dari SMYS (Static Condition). Untuk kondisi dynamic analysis maka batasan maksimalnya akan berubah.

Sebenarnya apa perbedaan analysa statis dan analisa dinamis pada instalasi pipeline dengan OFFPIPE? Simpel saja, pada analisa statis asumsinya tidak ada pergerakan dari bargenya (barge dianggap diam/statis) sedangkan pada analisa dinamis kita memasukkan fungsi pergerakan barge. Jadi bargenya kita anggap bergerak karena adanya pengaruh gelombang laut. Oleh karena itu, untuk analisa dinamis kita memerlukan data tambahan berupa data RAO (Response Amplitude Operator) dari barge atau yang biasa dikenal sebagai motion study of the barge dan data lingkungan (gelombang dan arus laut). Data RAO dapat diperoleh salah satunya dari simulasi dengan menggunakan software MOSES.

Ok, kembali ke kerjaan…

Untuk project instalasi pipeline ini ada beberapa case yang bias disimulasikan dengan menggunakan OFFPIPE, antara lain:

  • Start-Up Analysis

Analisa pada saat pertama kali pipa akan diluncurkan. Pipa dilas di atas barge lalu ditarik sampai di ujung stinger. Karena pipa tidak bisa bergerak sendiri maka kita perlu menariknya dengan AHT atau winch machine. Setelah pipa berada di ujung stinger, kita kaitkan kabel yang sebelumnya telah diikatkan di DMA (Dead Man Anchor) di dasar laut ke ujung pipa (pipe head). Lalu barge bergerak maju dan proses penyambungan pipa tetap dilakukan sehingga dengan sendirinya pipa tersebut akan turun dan meluncur ke laut dengan dipegangin kabel didepannya. Proses start-up selesai setelah pipe head dan beberapa meter bagian pipa telah berada di dasar laut. Kita bisa membuat simulasi pipa yang ujungnya diikatkan cable yang terhubung di DMA yang ada di dasar laut. Pada beberapa kondisi, kita bisa mengganti DMA dengan kaki jacket. Jadi kabelnya kita kaitkan pada kaki jacket jika kita tidak menggunakan DMA. Simulasi di OFFPIPE dilakukan dengan merubah-rubah panjang pipa dari pendek misal 70meter kemudian dtambah per case 10 meteran sehingga kita akan mendapatkan variasi case panjang pipa pada simulasi OFFPIPE, danakan diperoleh kesan bahwa pipe bergerak dari barge menuju dasar laut. Dalam setiap perubahan itu kita cek strain dan stress yang terjadi dan kita analisa.

  • Normal Laying Analysis

Analisa normal, yaitu asumsinya kondisi saat pipa sudah menyentuh seabed jadi kita tidak lagi menggunakan cable. Yang ada hanya pipa aja. Seperti biasa kita cek strain dan stress yang terjadi dan kita analisa.

  • Abandon Analysis

Abandon adalah keadaan dimana tidak memungkin dilanjutkannya pekerjaan instalasi pipeline karena mungkin cuaca buruk. Untuk itu pekerjaan harus dihentikan dan bagian terakhir pipa yang ada di atas barge harus diturunkan ke dasar laut. Hal ini biasa disebut abandon analysis. Prinsipnya hamper sama sepeti Start-Up analysis, kita menggunakan cable. Tapi untuk case ini kabel posisinya berada di belakang pipa. Jadi simulasi yang dilakukan dengan merubah0rubah panjang pipa mulai pendek sampai panjang. Sehingga diperoleh kesan pipa meluncur ke dasar laur dengan dipegangin cable di belakangnya.

  • Recovery Analysis
  • Laydown Analysis

————————- bersambung ——————————-

PS: Kita lanjutkan nanti yah… Saya mau kerja lagi hehe…

Pipeline sebagai Salah Satu Fasilitas Subsea

Secara umum fasilitas subsea akan mengalirkan produksinya dari dalam tanah lewat sumur. Pada bagian atas sumur ini biasa dipasang tree untuk pengoperasian sumur tersebut. Dari beberapa sumur, aliran hasil produksi dikumpulkan jadi satu oleh manifold untuk dikirim ke tempat proses dan penyimpanan selanjutnya yang biasanya mengapung, berdiri di atas struktur tetap atau berada di darat. Untuk menghubungkan tree di sumur dengan manifold, kita butuh jumper atau flowline. Untuk tieback yang panjang, pipeline akan dibutuhkan untuk menghubungkan manifold dengan fasilitas penerima. Di kedua ujung pipeline ini, biasanya akan dipasang FTA (Flow Termination Assembly) atau PLET (Pipeline End Termination) untuk memungkinkan koneksi dengan riser atau jumper dari jarak jauh.

Ada berbagai macam teknologi koneksi yang biasa dipakai sesuai dengan kondisi lapangan. Di ujung hilir pipeline, kalau fasilitas penerimanya masih di lepas pantai, maka riser akan dibutuhkan untuk menghubungkan aliran dari dasar laut ke atas air. Secara umum, gambaran fasilitas subsea ini adalah seperti berikut.

skema1Gambar Skema Fasilitas Subsea

Dalam hal fasilitas subsea, Pipeline dimaksudkan disini adalah pipeline untuk tieback saja, yaitu dari manifold atau sumur ke stasiun penerima baik itu FPSO, fixed platform atau di onshore, jadi bukan pipeline untuk export. Pembedaan ini penting karena di beberapa tempat, kedua pipeline ini diatur oleh peraturan (code) yang berbeda. Tergantung dari cara pembikinannya, ada beberapa jenis pipa seperti:

• seamless (S)
• high-frequency welded pipes (HFW)
• submerged-arc welded longitudinal seam (SAWL)
• submerged-arc welded helical seam (SAWH) atau spiral welded

Adapun jenis-jenis materialnya adalah sebagai berikut:
1. Low carbon steel

Baja yang mengandung kadar karbon kurang dari 0.29% adalah baja mild yang mempunyai tensile strength yang relatif rendah jadi cocok untuk dibikin pipa. Carbon Equivalent (CE) adalah sebuah metoda untuk mengukur hardness dan weldability maksimum berdasarkan komposisi kimia dari baja tersebut. Kalau memakai ukuran ini, CE dari total komponen dari baja yang akan dipakai untuk pipa harus dibawah 0.43%.

2. Corrosion Resistant Alloy (CRA)

CRA bisa dibagi kedalam stainless steel, chrome based alloy, nickel based alloy, titanium dan aluminum.

3. Clad

Pipa clad adalah kombinasi dari pipa baja berkadar karbon rendah untuk lapisan luar dan CRA untuk lapisan dalam. Tujuannya adalah untuk menekan tingginya biaya CRA. CRA dipasang di lapisan dalam maksudnya untuk menahan korosi dari fluida yang dialirkan sedangkan carbon steel di luar untuk menjamin integritas struktur. Hal yang harus diperhatikan adalah pada saat pengelasan CRA ke carbon steel karena ada resiko hydrogen induced cracking (HIC) mengingat material yang dilas berbeda jenis.

4. Flexible

Pipa flexible mempunyai beberapa lapisan plastik dan beberapa lapisan baja. Setiap lapisan tidak terikat (unbonded) dengan lapisan lainnya, sehingga bisa bergerak dengan bebas yang menjadikan pipa menjadi fleksibel. Pipa flexible banyak dipakai untuk flowline dan jumper mengingat ukuran flexible masih terbatas mengingat kemampuan burst dan collaps resinstant-nya. Juga karena flexible mempunyai sifat dinamik yang kuat, material jenis ini cocok untuk riser di FPSO.Secara konstuksi, ada dua jenis riser fleksibel: bonded dan unbonded.

Untuk memasang pipa di dasar laut ada 4 teknik yang umum dipakai seperti dijelaskan di bawah ini.

1.Reel lay

pr Semua pipa dilas di darat dan digulung sampai ukurannya komplit atau sudah mencapai maksimum kapasitas reel-nya. Tidak semua coating bisa dipakai seperti concrete dan beberapa coating yang kaku. Tebalnya pipa ditentukan oleh diameter reel atau carousel. Pipa juga menjadi sangat sensitif terhadap perubahan properti. Bisa dipakai padakedalaman 100 sampai 1000 meter. Kecepatan pasang sekitar 14 km per hari. Yang perlu diperhatikan dalam teknik reel lay adalah ovalisation, residual stress, Bauschinger effect dan fatigue

2. Towing

towing Ada 4 jenis tow berdasarkan posisi pipa terhadap dasar laut: bottom tow, off-bottom tow, controlled depth tow and surface tow. Selain bottom tow, diperlukan minimal dua buah kapal, satu di depan dan satu di belakang. Dalam controlled depth tow, kecepatan kapal harus disesuaikan dengan kedalaman pipa yang diinginkan pada saat towing. Dalam towing lay, semua fabrikasi dikerjakan di onshore termasuk pemasangan anode dan coating di sambungan. Menarik buat lapangan yang terletak tidak terlalu jauh dari pantai. Juga cocok untuk aplikasi PIP dan pipe bundle.

.

.

3. J-Lay

jlay Pengelasan dilakukan hanya oleh satu section jadi lebih lambat dari S-lay dan untuk mempercepat proses, teknik pengelasan yang lebih canggih seperti friction welding, electron beam welding atau laser welding digunakan. Pipa yang akan dipasang mempunyai sudut yang mendekati vertikal sehingga tidak butuh tensioner. Teknik ini sangat cocok untuk instalasi di laut dalam. Beda dengan S-lay, J-lay tidak membutuhkan stinger. Kecepatan pasang sekitar 1-1.5 km per hari. Ukuran pipa maksimum yang bisa diinstal adalah 32” OD (Saipem S-7000)

4. S-Lay

slay Pipeline difabrikasi di atas kapal untuk dengan satu, dua atau tiga joints Membutuhkan stinger untuk mengontrol bending bagian atas dan tensioner untuk mengontrol bagian bawah. Laut yang lebih dalam membutuhkan stinger yang lebih panjang dan tensioner yang lebih kuat. S-lay laut dangkal hanya bisa dipakai sampai kedalaman sekitar 300m saja. Untuk yang lebih dalam lagi, DP S-lay bisa dipakai sampai kedalaman 700m. Kecepatan pasang sekitar 4 – 5 km per hari. Ukuran pipa maksimum yang bisa diinstal adalah 60” OD (Allseas Solitair).

-to be continued-